Room, tak hanya sekadar akting gemilang Brie Larson

  • Whatsapp
Room, tak hanya sekadar akting gemilang Brie Larson
Room, tak hanya sekadar akting gemilang Brie Larson
banner 468x60

Vice Indonesia.com – Brie Larson sudah mendapat Oscar sebagai aktris terbaik lewat Room. Hal tersebut sepatutnya jadi undangan kamu menonton filmnya di bioskop.

Dan percayalah, yang bakal kamu dapat setelah nonton Room bukan hanya akting gemilang Brie Larson.

Di awal Room, kita melihat seorang bocah bangun pagi. Ia menyapa setiap benda di ruangan: Selamat pagi, TV; selamat pagi, lampu; selamat pagi, lemari, dan lain-lain. Hari itu istimewa baginya. Ia berulang tahun yang ke-lima.

Sudah lima tahun bocah itu, Jack (Jacob Tremblay yang berakting tak kalah dahsyat) tinggal berdua saja dengan ibunya, Joy (Larson) di kamar sempit berukuran 3 kali 3 meter itu. Di tempat itu mereka makan, tidur, nonton TV, memasak, bermain, mandi, hingga buang kotoran.

Di kamar itu ada TV, lemari, wastafel, WC, bak mandi, kursi, ranjang, hingga meja. Ruang itu juga kedap suara. Teriakan mereka takkan terdengar keluar. Hanya sebuah jendela kecil di atas, tempat menatap langit.

Saat menonton bagian awal Room ini, saya sudah berprasangka buruk. Filmnya khas film independen sekali: dimainkan hanya berdua dalam sebuah ruang sempit. Saya pikir, cerita model begini bagusnya jadi tontonan teater, bukan film bioskop.

Saya bertanya dalam hati sambil menonton, apa sepanjang film bakal melihat dua orang di dalam ruangan saja? Bila iya, membosankan sekali.
Namun saya ternyata salah. Teramat salah.

Awalnya, kita tahu Joy menanamkan pemahaman bahwa ia dan Jack tengah berada dalam sebuah pesawat ruang angkasa.

Lalu Joy mengubah cerita yang sudah ia tanamkan bertahun-tahun pada putranya. Joy adalah korban penculikan. Pria brewokan yang sesekali datang membawa makanan untuk mereka dan dipanggilnya Old Nick (Sean Bridgers) adalah penculiknya saat ia berumur 17 tahun. Kita tahu, oleh sang penculik ia diperkosa hingga hamil dan lahir Jack. Ia dan Jack telah tujuh tahun tinggal di ruangan itu.

Kini, Joy merasa di usia 5 tahun, Jack bisa diandalkan membantunya keluar dari ruang penyekapan. Jack awalnya menolak. Ia mengira ibunya berbohong. Ia percaya sedang di pesawat ruang angkasa.

Sang ibu terus merayu. Butuh waktu mengubah pemahaman sang anak yang sudah tertanam bertahun-tahun. Di sini, Room kian menarik.

Film ini diangkat dari novel berjudul sama karya Emma Donaghue. Sang novelis sendiri yang menulis skenario filmnya. Ia mengubah perspektif cerita di novel dari sudut pandang Jake, si bocah lima tahun, jadi sang ibu.

Baca juga: Prediksi Oscar 2016: Siapa bakal menang Aktris Terbaik?

Ini langkah tepat. Di novel, sudut pandang Jake mungkin memberi suara khas. Tapi di film, sang ibu memang seharusnya tampak dominan.

Kita menyaksikan Jack dilatih mengelabui Old Nick dengan pura-pura sakit dan lalu pura-pura mati, sambil tak lupa dunia di luar kamar yang mereka tinggali tempat yang menakjubkan.

“Kamu akan menyukainya,” kata Joy.

“Apa?” tanya Jack.

“Dunia,” timpal Joy.

Saya lalu teringat cerpen Seno Gumira Ajidarma, “Manusia Kamar” yang pertama ditulisnya awal tahun 1980-an. Di situ kita bertemu karakter yang justru membenci dunia lalu memilih menyingkir dari hiruk-pikuk kehidupan, tinggal di kamar yang semua sisinya ditembok.

Kita bertemu dialog begini di cerpen “Manusia Kamar”.

“Aku bosan lihat orang-orang itu.”

“Kenapa?”

“Munafik, penjilat, tukang onani jiwa.”

“Wah, jangan begitu dong. Itu manusiawi kan?”

“Memang, tapi sebal melihatnya. Jenuh.”

Room semula saya kira akan menjadi anti-tesis dari “Manusia Kamar”. Ketika kehidupan dunia dirayakan. Bukan ditinggal.

Namun, tebakan saya lagi-lagi salah. Dan dengan begitu saya makin jatuh cinta pada filmnya lantaran susah ditebak.

Room tidak berakhir dengan Joy dan Jack akhirnya bebas dari sekapan di kamar sempit. (Oh, Tuhan, adegan Jack meloloskan diri dari Old Nick rasanya layak masuk daftar adegan film paling menegangkan sepanjang masa.)

Dunia dan kebebasan ternyata tak selamanya indah. Terutama bagi Joy. Ia mengutuki semua hal: orangtuanya yang ternyata telah bercerai; kehidupan mereka yang di matanya baik-baik saja tanpanya; hingga ia marah andai tak menolong orang yang ternyata pura-pura lalu menculiknya.

Di lain pihak, Jack justru terlihat lebih dewasa menghadapi dunia yang baru. Jack justru yang kemudian mengobati keresahan ibundanya.

Room melangkah lebih jauh dari sekadar film independen pamer akting pemeran utamanya. Ia bukan pula drama menegangkan melawan penculikan. Isinya lebih penting dari sekadar tontonan yang menghibur.

Film yang membawa sutradara Lenny Abrahamson menjadi nomine Oscar 2016 ini seolah memberi petunjuk bagaimana para penyintas korban penculikan–maupun korban kejadian traumatis lain–mengatasi rasa traumatis mereka.

Room berakhir melegakan. Jack mengatakan ia kangen kamar tempat mereka disekap dulu. Ia dan ibunya lalu mampir. Di situ Jack mengucap selamat tinggal. Akhir yang dahsyat dari sebuah film yang teramat penting!

banner 300x250
banner 468x60

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *